Literasi Muhasabah (Sebuah Refleksi Pergantian Tahun)


Tanggal 1 Januari merupakan awal kita memasuki pergantian tahun baru. Setiap orang tentu memiliki cara yang berbeda dalam memaknai setiap pergantian tahun. Tahun baru biasanya merupakan moment yang tepat digunakan untuk melihat pencapain yang didapat pada tahun sebelumnya.

Sebagian orang beranggapan bahwa tahun baru adalah tahun yang mempunyai banyak peluang dan kesempatan, dengan begitu mereka membuat perencanaan dan target yang akan di lakukannya. Ada juga yang memandang tahun baru sesuatu hal yang biasa saja dan tidak perlu dianggap spesial. Namun yang penting ialah bagaimana kita bisa muhasabah dan memaknai moment pergantian tahun ini dengan berpikir positif dan berusaha lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syari, makna definisi pengertian muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya. 

Muhasabah atau instropeksi diri berarti introspeksi akan dirinya sendiri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan dari masa-masa yang telah lalu. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu akan dirinya sendiri. Muhasabah ibarat kita mengasah dan membersihkan pisau yang kita gunakan untuk memotong. Ketika pisau itu kita gunakan terus menerus, lama kelamaan akan menjadi tumpul. Dari yang sebelumnya satu hari bisa memotong 10, hari-hari berikutnya mungkin berkurang menjadi 8 atau hanya 5. Bahkan pada akhirnya tidak bisa digunakan untuk memotong.

Begitupun diri kita. Akibat rutinitas dan aktivitas yang begitu padat, membuat kita lupa untuk evaluasi diri. Akibatnya, sensitifitas kita berkurang, kepedulian kita menurun, kreatifitas tidak muncul, bahkan lebih parahnya lupa akan hal hal yang penting yang harus kita prioritaskan dalam hidup ini.

 

Cara Muhasabah Diri

Saya teringat dengan Aa Gym saat beliau memberikan tausiyah terkait dengan muhasabah diri. Menurut Beliau ada 5 cara yang bisa kita jalankan dalam melakukan muhasabah.

Pertama,  Tafakur Diri, yaitu Kita menyediakan waktu untuk diri kita sendiri, untuk jujur sejujur-jujurnya kepada diri sendiri. Tentang ucapan, apakah sudah benar dan baik? Tentang sikap, sudahkah ia membawa pada kebaikan serta perbaikan? Tentang niat, apakah benar sudah ikhlas? Tentang amal, sudahkah kita mengikuti jejak Nabi? Tentang waktu, sudahkah ia membawa pada kebermanfaatan serta kemajuan bersama?

Kita dihormati orang lain karena Allah masih menutupi aib dan keburukan kita. Jangan tertipu dengan kekaguman orang karena mereka tidak tahu aib-aib kita.

Kedua, Milikilah Cermin Pribadi. Cermin yang dimaksud adalah adanya orang yang berani jujur menyampaikan apa adanya tentang keburukan kita. Butuh orang yang mengatakan apa adanya tentang diri kita. Kita tidak perlu orang yang kagum kepada kita. Menurutnya, koreksi tidak akan merugikan apapun. Koreksi yang keluar dari hati tidak akan melukai diri, justru menjadi rezeki.

Ketiga, Berguru Kepada yang Ahli. Sebaik-baiknya guru adalah guru yang mengamalkan apa yang disampaikan. Karena bicaranya bukan hanya kata kata tapi sikapnya bulat memberi yang terbaik. Banyaklah berguru kepada orang yang yakin kepada Allah karena kebaikan akan menular. Orang yang yakin akan bisa meyakinkan.

Keempat, Manfaatkan Orang yang Benci. Justru sebuah rezeki kalau ada orang yang membenci kita, sebab mereka adalah orang yang perhatian kepada kita. Kita tahu kekurangan kita dan memeroleh pahala dari kebencian mereka.

Kelima, Tafakuri Apa yang Terjadi. Setiap kejadian yang adalah selalu ada hikmahnya. Mendapat ilmu bukan hanya dari ceramah, tapi bisa belajar dari mana saja, dari buku, dan dari teman. Lillahi ta’ala. Niatkan mengubah diri agar Allah ridha.

 

Waktu Muhasabah

Muhasabah berarti perlu kita lakukan setiap hari. Tidak hanya pas menjelang pergantian tahun. Muhasabah itu dilakukan sebelum melakukan perbuatan dan setelah melakukan perbuatan.

Muhasabah sebelum melakukan perbuatan seorang Muslim berhenti pada awal keinginan dan kehendaknya serta tidak bersegera melakukan perbuatan sampai jelas statusnya. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang harus dijawab.

Pertama, apakah perbuatan yang diiginkan mampu dilakukan atau tidak. Kedua, apakah perbuatan itu sesuai syariat. Ketiga, apakah perbuatan itu akan dilakukan ikhlas karena Allah.

Sementara itu, untuk muhasabah setelah melakukan perbuatan dapat dicek melalui apakah perbuatannya sesuai syariat dan apakah dilakukan ikhlas karena Allah.

Menurut Ibnu Qayyim muhasabah setelah melakukan perbuatan ini ada tiga macam.Pertama, muhasabah atas ketaatan yang diabaikan. Kedua, muhasabah atas setiap perbuatan yang apabila ditinggalkan lebih baik daripada dilakukan. Ketiga, muhasabah atas perbuatan yang mubah yang tidak dilakukannya.

Lebih jauh Ibnu Qudamah berkata, “Seyogyanya bagi seorang Muslim itu menyisihkan waktunya pada pagi hari dan sore hari untuk muhasabah diri. Dan ia menghitungnya sebagaimana para pedagang dengan rekan-rekannya menghitung keuntungan dan kerugian transaksi mereka setiap akhir penjualan.”

 

Manfaat Muhasabah

Dengan gemar,rutin dan terus-menerus melakukan Muhasabah diri maka kita akan memperoleh banyak manfaat atau keuntungan. Muhasabah akan mendorong diri sendiri semakin antusias dan konsisten melakukan amal-amal sholeh, sehinnga lahir kesadaran dan harapan akan kepada Allah hingga lahir kekhusyuk’an dalam setiap ibadah.

Dengan muhasabah, tidak akan pernah lupa apalagi memandang salah karunia dan nikmat-nikat Allah yang telah dianugerahkan. Dengan kata lain akan memantik rasa syukur yang mendalam atas segala karunia Allah Ta’ala.

Dengan muhasabah, akan terhindar dari melakukan ghibah, fitnah dan namimah yang akan berakibat pada hangusnya pahala dari amalan sholeh yang disusun selama hidup. Sebab, orang yang bicaranya buruk adalah orang yang pasti tidak pernah me-muhasabah dirinya sendiri, sehingga berlaku kata pepatah: “Semut di seberang jauh kelihatan sedangkan gajah di depan mata tidak terlihat.”

Dengan demikian merugilah orang yang menghabiskan umurnya tanpa muhasabah, sehingga keras hatinya dan buruk perangainya. Padahal, hanya dengan muhasabah semata, iman seseorang akan terpelihara dan takwa menjadi nyata. Mari kita bangun budaya muhasabah diri sendiri.

Sumber :  AHMAD SYAWQI (Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin) 


Konsultasi Perpustakaan

Lembar Konsultasi perpustakaan ini di Asuh oleh Bapak Itmamudin, SS.,M.IP yang merupakan seorang Pustakawan, Praktisi Perpustakaan dan Konsultan Perpustakaan.

FB. itmam_wafa@yahoo.com
IG. itmam_elwafa
 

STATISTIK USER

Pengunjung hari ini : 34
Total pengunjung : 12537

Hits hari ini : 54
Total Hits : 26033

Pengunjung Online: 1