KEIKHLASAN GURU DAN PUSTAKAWAN


KEIKHLASAN GURU DAN PUSTAKAWAN

(Refleksi Hari Guru Nasional)

Oleh : Ahmad Syawqi

 

(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)Pada 25 November 2017 ini PGRI yang ditetapkan sebagai sebagai Hari Guru Nasional, genap berusia 72 tahun. Usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Selama kurun waktu tersebut, banyak pengabdian yang telah disumbangkan, banyak aktivitas yang telah dilaksanakan, banyak perjuangan yang telah dikerjakan, banyak kegiatan perlindungan terhadap anggota yang telah diberikan.

Hari Guru Nasional ini dijadikan sebagai refleksi bagi seluruh guru Indonesia untuk terus mengembangkan ilmu di bidang pendidikan, bersikap etis dan professional dengan terus memprioritaskan kemajuan anak didik. Peran para guru bukan hanya untuk mencerdaskan dan memajukan pendidikan bangsa. Sejak dulu, para guru sudah berjuang dengan ikhlas untuk membantu bangsa Indonesia terbebas dari tekanan penjajah, membebaskan bangsa dari kebodohan, dan berjuang meraih kemerdekaan. Guru adalah pembangun, pejuang, dan inspirator peradaban.

 

Keikhlasan Guru

Profesi guru merupakan profesi yang MULIA dan tentunya sangat dibutuhkan masyarakat dari waktu ke waktu sebagai profesi yang hadir dalam ranah memberikan pendidikan untuk  mencerdaskan anak bangsa. Karena peran guru dalam upaya menyelamatkan anak didik dari kebodohan, maka guru selalu dihormati dan diberi tempat tertinggi dalam strata manusia.

Bukan hanya itu, profesi guru merupakan profesi yang digolongkan strata tertinggi dalam masyarakat. Guru menjadi cita-cita dan impian bagi sebagian masyarakat. Tidak sedikit orang tua sangat mendambakan anak-anaknya menjadi guru, bukan hanya itu kalau anaknya tidak bisa jadi guru, paling tidak punya anak menantu yang guru. Pokoknya jadi guru, pasti kehidupannya sangat menjanjikan, tidak ada guru yang melarat namun pasti kaya ilmu. Tidak heran pendidikan guru begitu banyak diminati meskipun biayanya sangat mahal, bahkan terkadang orang memaksakan diri untuk masuk ke fakultas Keguruan untuk meraih gelar itu, meskipun kemampuannya tidak . 

Sesungguhnya menjadi guru tidaklah mudah, apalagi hidup di zaman yang digerakkan oleh roda kapitalisme yang cenderung mengedepankan sifat pragmatism daripada nurani. Persepsi sebagian masyarakat sekarang ini menganggap profesi guru semakin jauh dari eksistensinya untuk memenuhi tujuan utamanya yaitu untuk membantu atau menolong anak didik dari kebodohannya. Semakin jauh dari nilai-nilai luhur yang ditanamkan dalam sumpah seorang guru yang dibacakan setiap selesai dan dinyatakan menjadi guru. Apakah semua guru  seperti itu? Saya kira tidak semua guru seperti itu, karena masih banyak guru yang memiliki nurani. Masih banyak guru lebih mengedepankan layanan pendidikan bagi anak daripada imbalan jasa yang harus diterima.

Masih banyak guru yang ingin bekerja untuk kemanusiaan sebagai investasi amal kebaikan. Inilah kondisi dilematis seorang guru. Satu sisi dia akan mencurahkan perhatian dan pengabdiannya untuk kemanusiaan dan satu sisi mengharapkan imbalan jasa untuk pemenuhan kebutuhannya sebagai manusia biasa. Guru juga sangat perlu kebutuhan sandang, pangan dan perumahan. Ketika guru bekerja mendapatkan imbalan jasa atas keahliannya. Idealnya bahwa imbalan jasa tersebut, hendaklah dilakukan dengan seikhlasnya. Tentunya berbicara masalah nilai KEIKHLASAN, maka akan berbeda-beda nilai keikhlasannya antara satu orang dengan orang lain, sehingga muncullah tarif guru Dan ketika ada tarif guru, seolah-olah berlaku hubungan jual beli dalam perdagangan. Dengan demikian ketika siswa datang ke guru, harapan kepuasan yang diinginkan oleh siswa tersebut harus terpenuhi, bila tidak terpenuhi atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka siswanya boleh jadi akan menuntut gurunya, karena siswa membayar imbalan jasa. Dalam pemenuhan tersebut, guru akan bekerja penuh dengan kehati-hatian, tidak bebas dan tidak enjoy.

Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak dalam sisi yang saling berhadapan, seolah-olah profesi ini adalah profesi benci tapi rindu. Satu sisi kita mendambakan sebagai profesi yang mulia dalam kemanusiaan dan satu sisi tidak diharapkan dalam pragmatism layanan, dalam artian lebih mengedepankan imbalan jasa daripada tindakan pertolongan. 

 

Keikhlasan Pustakawan

Sebutan Pustakawan biasanya dikaitkan dengan seseorang yang bekerja  di  perpustakaan dan membantu orang menemukan bukumajalah, dan informasi lain. Pustakawan adalah profesi  yang juga memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus seperti halnya guru.

Sampai saat ini profesi pustakawan cenderung masih diremehkan dibandingkan dengan profesi lain seperti guru, dokter, pengacara, dan sebagainya. Pernyataan tersebut tentu terlontar bukan tanpa alasan, berdasarkan pengamatan profesi pustakawan memang masih belum begitu memiliki greget di masyarakat apabila dibandingkan dengan profesi lain seperti guru atau dokter.

Bagi saya pribadi, justru profesi pustakawan merupakan profesi yang sangat MULIA dan TERHORMAT, sama dengan profesi guru. Menjadi seorang pustakawan, berarti berjika IKHLAS, kita harus siap melayani banyak orang, melayani kebutuhan informasi para pemustaka, melayani dengan senyuman dan keikhlasan serta kerendahan hati sehingga memberi manfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Nabi Muhammmad SAW sangat menghargai seorang pustakawan yang diibaratkan sebagai AKTOR utama yang menjadi mediator dalam pencarian ilmu dengan pemustaka. Sabda Nabi SAW yang artinya: “Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi seseorang dalam meraih ilmu, maka Allah akan memudahkannya dalam meraih jalan ke sorga”. Hadis ini menggambarkan betapa mulianya profesi seorang pustakawan yang tentunya menjadi aktor dalam mencerdaskan manusia dari ketidaktahuan menjadi orang yang tahu berilmu pengetahuan.

Sungguh suatu kebahagiaan yang tak terhingga bisa berbagi dan membantu pemustaka mencari informasi yang dibutuhkan. Saat berhasil membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan, sungguh ada kepuasan batin tersendiri dan kebanggaan menjadi pustakawan.

Untuk semua guru di seluruh wilayah Indonesia, selamat Hari Guru Nasional dan semoga dapat terus mengembangkan ilmunya di bidang pendidikan dan terus bersikap professional dengan segala keikhlasannya.

 

Sumber : Penulis 


Konsultasi Perpustakaan

Lembar Konsultasi perpustakaan ini di Asuh oleh Bapak Itmamudin, SS.,M.IP yang merupakan seorang Pustakawan, Praktisi Perpustakaan dan Konsultan Perpustakaan.

FB. itmam_wafa@yahoo.com
IG. itmam_elwafa
 

STATISTIK USER

Pengunjung hari ini : 36
Total pengunjung : 12539

Hits hari ini : 65
Total Hits : 26044

Pengunjung Online: 1