Guru Pustakawan Yang Dirindukan Surga


Setiap  manusia apapun profesinya, apakah ia seorang dokter, pustakawan atau pun guru yang pada tanggal 25 November 2017 ini diperingati sebagai sebagai Hari Guru Nasional, genap berusia 72 tahun. dsb) pasti merindukan agar nantinya setelah wafat bisa masuk surga sebagai sebagai tempat kembalinya kelak. Surga digambarkan sebuah tempat yang paling suci dan mulia. Disanalah puncaknya kenikmatan yang tiada tandingannya. Namun tidaklah mudah untuk menjadi penghuni surga, kecuali atas izin Allah dan karena kesabaran kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.

Jika kita masuk kedalam surganya Allah maka kita akan mendapatkan nikmat yang tak terbatas di akherat kelak. Begitu indahnya surga, karenanya jiwa dan pikiran manusia sulit untuk menggambarkannya. Surga sering dideskripsikan sebagai “sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, terpikirkan oleh otak dan terbersit oleh indra perasaan manusia.”

Keinginan menjadi penghuni surga tidak cukup hanya berdo’a, tapi kita harus berusaha memiliki sifat dan amal calon penghuninya dan usaha itu sekarang dalam kehidupan kita di dunia ini. Dan kita harus berlomba-lomba supaya termasuk salah satu orang yang dirindukan oleh surga.

 

Karakter Manusia Yang Dirindukan Surga

Dijanjikan masuk surgaNya Allah swt adalah sebuah impian setiap muslim yang normal, kecuali yang tidak normal pasti tidak memikirkan hal ini, yang difikirkan hanyalah kebahagiaan dunia. Namun, masuk ke dalam surgaNya Allah swt bukanlah hal yang seperti kita masuk ke sebuah mall yang sangat mudah dan gratis. Masuk ke surgaNya Allah SWT harus memenuhi syarat terlebih dahulu, tidak asal asalan karena surga adalah sebuah tempat di akhirat yang sangat indah begitupun penghuninya haruslah orang-orang yang indah budi pekerti dan amalnya .

Surga ternyata memiliki kerinduan, surga merindukan guru pustakawan yang sholeh dan taat kepada Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya: “Surga merindukan 4 golongan, yakni orang yang membaca Al-Qur’an, yang pandai menjaga lisan, yang mau memberi makan kepada orang yang kelaparan, dan orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan“.

Membaca Al-Qur’an merupakan amalan yang bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk para guru dan pustakawan. Mereka yang gemar dan senang membaca Al-Qur’an, memahami dan mengamalkan isinya, menghafal ayat-ayatnya, mengajarkannya kepada orang lain itu merupakan salah satu tanda-tanda orang yang dirindukan Surga.

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang mana jika kita membaca dan mengamalkannya, insyaAllah kelak diyaumil qiyamah, Al-Qur’an akan memberikan syafaatnya kepada orang-orang yang mencintai Al-Qur’an. Karena sesungguhnya akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an

Seorang ulama besar, Ibnu Shalah (wafat tahun 643 H), penulis kitab ‘al-Muaqaddimah, sebuah karya terbesar di bidang ilmu hadits, mengatakan, “Membaca al-Qur’an merupakan satu kemuliaan yang diberikan Allah Swt kepada umat manusia. Sesungguhnya para malaikat tidak diberikan kemulian itu. Mereka merindukan diberikan kemuliaan tersebut agar dapat mendengarnya.” (al-Itqan fi Ulum al-Qur’an 1/291)

Membaca Al-Qur’an adalah ibadah utama yang dipersembahkan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menegaskan, “Seutama-utama ibadah umatku adalah membaca al-Qur’an.” (HR. Baihaqi). Hadits lain yang menjelaskan keutamaan al-Qur’an, “Barang siapa membaca al-Qur’an, ia benar-benar melangkah naik menuju derajat kenabian di kedua sisinya. Hanya saja tidak diberikan wahyu kepadanya.” (HR. al-Hakim)

Di samping membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu juga merupakan amalan yang memudahkan dalam meraih surga. Nabi SAW mengatakan bahwa “ Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga” (H.R Muslim)

Allah swt memuji ilmu dan orang yang berilmu, serta menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk membekali diri mereka dengan ilmu. Bahkan setiap muslim telah diwajibkan oleh Allah untuk mempelajari ilmu, Rasulullah SAW bersabda yang artinya” Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”. (Shahihul Jami’ 3913).

Orang yang memiliki ilmu akan dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid’ah. Maka ilmu adalah perkara mulia yang hendaknya menjadi perhatian setiap muslim, perkara yang harus diutamakan. Karena ilmu itu lebih didahulukan dari perkataan dan perbuatan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat adalah mempelajari al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum halal dan haram, zuhud dan masalah hati, dan lain sebagainya”. (Fadhlu Ilmi Khalaf, h. 26).

Semoga dihari huru nasional ini, berharap dengan dua amalan utama yaitu membaca AL-Qur’an dan rajin menuntut ilmu mampu kita amalkan sehingga mengantarkan kita termasuk orang yang dirindukan oleh surga. Amin.

 

Sumber : Penulis 


Konsultasi Perpustakaan

Lembar Konsultasi perpustakaan ini di Asuh oleh Bapak Itmamudin, SS.,M.IP yang merupakan seorang Pustakawan, Praktisi Perpustakaan dan Konsultan Perpustakaan.

FB. itmam_wafa@yahoo.com
IG. itmam_elwafa
 

STATISTIK USER

Pengunjung hari ini : 36
Total pengunjung : 12539

Hits hari ini : 77
Total Hits : 26056

Pengunjung Online: 1